Dua orang Batak, yakni Irjen Pol Basaria
Panjaitan dan Saut Situmorang terpilih menjadi pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Keduanya terpilih bersama 3 pimpinan KPK
lainnya dalam voting terbuka yang diikuti 54 anggota Komisi III DPR,
tadi malam.
Bahkan, Basaria merupakan perempuan pertama menjadi
pimpinan KPK sejak lembaga pemberantasan korupsi itu berdiri pada 2002.

Basaria Panjaitan
1. Staf pengajar Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri
2. Jabatan sebelumnya: Kepala Biro Logistik Polri Kasatnarkoba Polda NTT, Direktur Reserse Kriminal Polda Kepulauan Riau, Penyidik Utama Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri

Alexander Marwata
1. Hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
2. Lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Indonesia (UI).
3. Pernah menjadi auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
Basaria Panjaitan
1. Staf pengajar Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri
2. Jabatan sebelumnya: Kepala Biro Logistik Polri Kasatnarkoba Polda NTT, Direktur Reserse Kriminal Polda Kepulauan Riau, Penyidik Utama Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri
Alexander Marwata
1. Hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
2. Lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Indonesia (UI).
3. Pernah menjadi auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
Laode Muhamad Syarif
1. Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
2. Perancang kurikulum dan pelatih utama dari Kode Etik Hakim dan Pelatihan Hukum Lingkungan Hidup di Mahkamah Agung
Saut Situmorang
1. Staf Ahli Kepala Badan Intelijen Negara (BIN)
2. Dosen ilmu kompetitif intelijen di Universitas Indonesia.
Basaria meraih 51 suara, sedangkan Saut 37 suara. Tiga pimpinan KPK terpilih lainnya adalah Agus Rahardjo (53), Alexander Marwata (46), dan Laode Muhammad Syarif (37).
Dari 5 pimpinan KPK periode 2015-2019 itu, DPR tidak memilih Johan Budi dan Busyro Muqoddas. Johan berada di urutan keenam. Dia hanya memperoleh 25 suara. Sedangkan Busyro lebih sedikit lagi, hanya memperoleh satu suara.
Dengan tidak terpilihya Johan dan Busyro, maka tidak ada orang lama di KPK.
Rupanya, para anggota dewan tak memilih Busyro karena sakit hati. "Pak Busyro membuat DPR tersinggung, dia bilang anggota DPR korup. Coba kalian bayangkan, kalau kalian dibilang korup, apa kalian mau pilih orang itu?" kata Wakil Ketua Komisi III DPR, Desmond Mahesa.
Busyro beberapa tahun yang lalu memang pernah menyindir gaya hidup para anggota DPR.
"Padahal Pak Busyro itu sudah tiga kali lho menjalani fit and proper test. Masak kita masih dibilang korup," tegas politisi Gerindra itu.
Johan Budi tak mempermasalahkan pilihan para anggota dewan dan mengaku akan kembali ke dunia tulis menulis.
"Saya akan kembali ke dunia yang dulu pernah saya geluti, dunia tulis menulis. Saya akan kembali aktif menulis," kata mantan Jubir KPK itu.
Sementara itu, Agus Rahardjo terpilih menjadi Ketua KPK dalam voting tahap II Komisi III untuk memilih ketua. Agus unggul telak dengan meraih 44 suara, disusul Basaria 9 suara dan Saut 1 suara.
Makin Suram
Pegiat Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho menilai Komisi III DPR sengaja memilih 5 nama baru pimpinan KPK yang 'anak baik'. DPR memilih pimpinan yang mengedepankan pencegahan. KPK memang ingin ditumpulkan tak agresif lagi menindak koruptor.
"Masa depan pemberantasan korupsi bakal semakin suram," jelas Emerson.
Emerson masih ingat, salah satu pimpinan KPK terpilih bahkan berucap saat proses seleksi, akan membawa KPK menjadi lembaga informasi pusat korupsi. Calon seperti ini yang disukai DPR.
"KPK akan jadi komisi pencegahan korupsi atau setidaknya pusat informasi antikorupsi," jelas Emerson.
Menurut dia juga, agenda pemberantasan korupsi akan semakin berat dan besar, kemungkinan RUU KPK akan mulus disahkan DPR.
"Artinya pelemahan KPK menjadi keniscayaan. Madesu, masa depan suram," tutup dia.
Pengamat hukum dari Universitas Andalas Feri Amsari mengatakan, dari calon yang dipilih para wakil rakyat ini sudah ditebak, DPR ingin KPK jadi anak penurut. Tak galak lagi.
"Hasil ini menunjukkan DPR telah berhasil menjalankan skenario mengisi KPK dengan orang-orang yang diduga untuk menumpulkan taring KPK. Yang paling menyedihkan, KPK yang harusnya membenahi institusi penegak hukum yang dianggap korup, saat ini diisi orang-orang yang berasal dari institusi yang bermasalah itu," katanya.
Feri menilai, pilihan para anggota DPR ini karena visi misi para Capim terpilih ini yang mengedepankan pencegahan dan membawa KPK tak galak lagi.
"KPK ke depan berpotensi melempem. Meskipun begitu rakyat dipanggil untuk mengawasi kinerja mereka yang terpilih agar KPK tidak dimatikan. Selamat DPR, Anda semua telah berhasil membuyarkan mimpi-mimpi pemberantasan korupsi," tutup dia. (dcn/kcm)