Gallery Batak,- Bagi yang belum mengenal pak Djarot mungkin ini bisa menjadi sumber wawasan bagi kita untuk lebih mengenal pak Djarot.
1.Djarot sudah berpengalaman dalam Birokrasi Pemerintahan.
Ahok memilih Djarot pada Pilgub Jakarta kemaren bukan tanpa alasan, tetapi karena Djarot dianggap berhasil selama dua periode menjadi Walikota Blitar (3 Mei 2000 hingga 3 Agustus 2010).
Djarot juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019. Serta kepemimpinan Djarot sebelum Pilkada SUMUT dimulai, Djarot menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta sejak 17 Desember 2014 hingga 9 Mei 2017.
Setelah menjadi Wakil Gubenur Jakarta akhirnya Djarot menggantikan Ahok sebagai Gubernur Jakarta 9 Mei 2017 – 15 Oktober 2017.
Sumber Wikipedia Biografi Djarot
2. Djarot pun dikenal sebagai orang bersih dan tidak terkait dalam kasus-kasus hukum.
Karena kebersihan inilah semua lawan politiknya kesulitan menyerang dengan isu negatif.
Tidak heran dalam Pilkada inipun nama Djarot sepi dari pembicaraan. Tidak ada bahan untuk digoreng.
Kita harus tahu bahwa Djarot merupakan salah satu kepala daerah berprestasi.
Selama sepuluh tahun, pendapatan asli daerah kota seluas 32,58 kilometer persegi itu mengalami peningkatan. Sebelum 2000, PAD Kota Blitar sekitar Rp 2,5 miliar.
Sedangkan sembilan tahun kemudian, PAD-nya melonjak menjadi Rp 39,86 miliar.
Pembangunan Kota Blitar berkembang. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Blitar dari Rp 38,625 miliar naik menjadi Rp 387 miliar.
Indeks pembangunan manusia (IPM) warga Blitar turut terkeret sekitar sembilan poin, dari 68,9 pada 2000 menjadi 77,12 di 2009.
Pencapaian itu merupakan yang tertinggi di Provinsi Jawa Timur pada 2009. Sumber
Dengan kisaran APBD sebesar Rp 250 milliar ia mampu membangun rumah sakit standart nasional, membenahi kawasan kumuh, dll.
250 miliar merupakan uang yang kecil untuk membangun daerah.
Di Jakarta, itu tidak akan bisa digunakan untuk membangun daerah.
Djarot sejak awal dilantik telah melakukan efisiensi anggaran pada belanja rutin.
3. Djarot dengan sengaja tetap menggunakan mobil dinas walikota yang lalu keluaran tahun 1994 merek Toyota Crown.
Djarot sadar jika ia tetap menggunakan mobil dinas lama, pejabat serta pimpinan DPRD akan segan membeli mobil dinas baru.
Selama 10 tahun memimpin Blitar banyak langkah berani dan inovatif yang dilakukannya. Seperti saat baru dilantik, ia menolak mobil dinas baru.
Dia memilih memakai mobil bekas walikota pendahulunya, Toyota Crown. Hingga dua periode (10 tahun) menjabat walikota, dia tetap mempertahankan Toyota Crown tersebut.
Ada dua hal yang ingin Ia ajarkan dengan tak meminta mobil dinas baru.
1.Djarot sudah berpengalaman dalam Birokrasi Pemerintahan.
Ahok memilih Djarot pada Pilgub Jakarta kemaren bukan tanpa alasan, tetapi karena Djarot dianggap berhasil selama dua periode menjadi Walikota Blitar (3 Mei 2000 hingga 3 Agustus 2010).
Djarot juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019. Serta kepemimpinan Djarot sebelum Pilkada SUMUT dimulai, Djarot menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta sejak 17 Desember 2014 hingga 9 Mei 2017.
Setelah menjadi Wakil Gubenur Jakarta akhirnya Djarot menggantikan Ahok sebagai Gubernur Jakarta 9 Mei 2017 – 15 Oktober 2017.
Sumber Wikipedia Biografi Djarot
2. Djarot pun dikenal sebagai orang bersih dan tidak terkait dalam kasus-kasus hukum.
Karena kebersihan inilah semua lawan politiknya kesulitan menyerang dengan isu negatif.
Tidak heran dalam Pilkada inipun nama Djarot sepi dari pembicaraan. Tidak ada bahan untuk digoreng.
Kita harus tahu bahwa Djarot merupakan salah satu kepala daerah berprestasi.
Selama sepuluh tahun, pendapatan asli daerah kota seluas 32,58 kilometer persegi itu mengalami peningkatan. Sebelum 2000, PAD Kota Blitar sekitar Rp 2,5 miliar.
Sedangkan sembilan tahun kemudian, PAD-nya melonjak menjadi Rp 39,86 miliar.
Pembangunan Kota Blitar berkembang. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Blitar dari Rp 38,625 miliar naik menjadi Rp 387 miliar.
Indeks pembangunan manusia (IPM) warga Blitar turut terkeret sekitar sembilan poin, dari 68,9 pada 2000 menjadi 77,12 di 2009.
Pencapaian itu merupakan yang tertinggi di Provinsi Jawa Timur pada 2009. Sumber
Dengan kisaran APBD sebesar Rp 250 milliar ia mampu membangun rumah sakit standart nasional, membenahi kawasan kumuh, dll.
250 miliar merupakan uang yang kecil untuk membangun daerah.
Di Jakarta, itu tidak akan bisa digunakan untuk membangun daerah.
Djarot sejak awal dilantik telah melakukan efisiensi anggaran pada belanja rutin.
3. Djarot dengan sengaja tetap menggunakan mobil dinas walikota yang lalu keluaran tahun 1994 merek Toyota Crown.
Djarot sadar jika ia tetap menggunakan mobil dinas lama, pejabat serta pimpinan DPRD akan segan membeli mobil dinas baru.
Selama 10 tahun memimpin Blitar banyak langkah berani dan inovatif yang dilakukannya. Seperti saat baru dilantik, ia menolak mobil dinas baru.
Dia memilih memakai mobil bekas walikota pendahulunya, Toyota Crown. Hingga dua periode (10 tahun) menjabat walikota, dia tetap mempertahankan Toyota Crown tersebut.
Ada dua hal yang ingin Ia ajarkan dengan tak meminta mobil dinas baru.
Pertama, untuk penghematan anggaran. Menurutnya, mobil dinas itu masih layak, tak perlu diganti hanya karena pejabatnya berganti.
Selain itu, kalau mobil dinas walikota diganti pasti ketua DPRD, ketua fraksi, dan staf di balaikota semuanya meminta ganti.
Walaupun sebenarnya penggantian mobil itu sudah dianggarkan, tapi Djarot tetap menolak karena menganggap hal itu pemborosan.
Kedua, Ia ingin memberikan contoh atau teladan, bahwa menjadi pejabat itu tidak boleh semena-mena menggunakan anggaran daerah yang berasal dari uang rakyat.
Anggaran daerah harus dikembalikan kepada rakyat dengan cara membangun kota sebaik mungkin dan untuk peningkatan kesejahteraan mereka.
Beritanya: Para PNS Blitar saat itu mendorong dirinya untuk mengganti mobil dinas baru seharga Rp 500 juta.
Namun, ia menolak lantaran malu dan menganggap harga tersebut cukup mahal.
“Aduh mahal banget. Rp 500 juta bisa digunakan macam-macam, bangun rumah kumuh. Daripada beli satu (barang),” ucap Djarot (Sumber)
4. Gotong royong bagi Djarot bukan sekedar kata-kata.
Djarot menjadikan gotong royong sebagai cara membenahi kota Blitar.
Gotong royong di era kepimpinan Djarot dilakukan oleh PNS hingga warga kota Blitar.
Berkat kepimpinan Djarot pada masa itu, kota Blitar hingga saat ini terus melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh Djarot, seluruh warga berperan.
Semua foto dokumentasinya bisa dilihat disini
Setiap malam Djarot sering mengajak PNS kota Blitar mengobrol secara informal. Djarot memperlakukan mereka layaknya teman.
Djarot juga dikenal sangat baik pada keluarganya
Ketika Blitar mampu meningkatkan pendapatan APBDnya, Djarot selalu ingin mengapresiasi bawahannya yang sudah bekerja keras.
Kemampuan Djarot menyatukan pikiran dengan PNS dikota Blitar inilah yang membuat warga disana mau bergotong royong.
Hasilnya selama masa kepimpinan Djarot jadi Walikota Blitar Tidak ada PNS yang Korupsi (Sumber).
Dan harapannya kita semoga sumut bersih dari Korupsi jika Djarot - Sihar terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut.
Karena kita semua tahu bahwa Sumut memegang prestasi sebagai Provinsi Terkorup Nomor 3 dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia (Sumber).
5. Prestasi Djarot yang sering dibincangkan adalah pembangunan Rumah Sakit Mardi Waluyo yang bertaraf nasional.
Proyek Rumah Sakit selesai pada tahun 2007 dengan sistem pembangunan multiyears mengingat minimnya anggaran yang dimiliki Blitar.
Salah satu tempat kebanggan Djarot adalah museum Bung Karno yang terletak dekat dari makam Bung Karno.
Semua lengkap pada link berikut
6. Jika melihat dari prestasi dan gaya kepemimpinannya, tak heran jika Djarot mampu memimpin kota Blitar hingga dua periode.
Padahal sumber data sangat minim, karena jarang sekali diliput media, tapi prestasinya sangat tinggi dan bisa di cari ketika ditanya oleh warga Blitar.
7. Bahkan, Djarot mendapatkan suara sebesar 70% pada Pilkada kota Blitar.
Itulah mengapa Djarot menjadi 10 Kepala Daerah terbaik tahun 2008 versi Majalah Tempo.
Djarot bukan orang nomor dua biasa. Djarot adalah pelengkap bagi Ahok.
Selain berprestasi, Djarot juga seorang pejabat yang ramah kepada semua orang.
Sumber: Bani – Tsamara Amany – Ahokdjarot.id
Selain itu, kalau mobil dinas walikota diganti pasti ketua DPRD, ketua fraksi, dan staf di balaikota semuanya meminta ganti.
Walaupun sebenarnya penggantian mobil itu sudah dianggarkan, tapi Djarot tetap menolak karena menganggap hal itu pemborosan.
Kedua, Ia ingin memberikan contoh atau teladan, bahwa menjadi pejabat itu tidak boleh semena-mena menggunakan anggaran daerah yang berasal dari uang rakyat.
Anggaran daerah harus dikembalikan kepada rakyat dengan cara membangun kota sebaik mungkin dan untuk peningkatan kesejahteraan mereka.
Beritanya: Para PNS Blitar saat itu mendorong dirinya untuk mengganti mobil dinas baru seharga Rp 500 juta.
Namun, ia menolak lantaran malu dan menganggap harga tersebut cukup mahal.
“Aduh mahal banget. Rp 500 juta bisa digunakan macam-macam, bangun rumah kumuh. Daripada beli satu (barang),” ucap Djarot (Sumber)
4. Gotong royong bagi Djarot bukan sekedar kata-kata.
Djarot menjadikan gotong royong sebagai cara membenahi kota Blitar.
Gotong royong di era kepimpinan Djarot dilakukan oleh PNS hingga warga kota Blitar.
Berkat kepimpinan Djarot pada masa itu, kota Blitar hingga saat ini terus melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh Djarot, seluruh warga berperan.
Semua foto dokumentasinya bisa dilihat disini
Setiap malam Djarot sering mengajak PNS kota Blitar mengobrol secara informal. Djarot memperlakukan mereka layaknya teman.
Djarot juga dikenal sangat baik pada keluarganya
Ketika Blitar mampu meningkatkan pendapatan APBDnya, Djarot selalu ingin mengapresiasi bawahannya yang sudah bekerja keras.
Kemampuan Djarot menyatukan pikiran dengan PNS dikota Blitar inilah yang membuat warga disana mau bergotong royong.
Hasilnya selama masa kepimpinan Djarot jadi Walikota Blitar Tidak ada PNS yang Korupsi (Sumber).
Dan harapannya kita semoga sumut bersih dari Korupsi jika Djarot - Sihar terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut.
Karena kita semua tahu bahwa Sumut memegang prestasi sebagai Provinsi Terkorup Nomor 3 dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia (Sumber).
5. Prestasi Djarot yang sering dibincangkan adalah pembangunan Rumah Sakit Mardi Waluyo yang bertaraf nasional.
Proyek Rumah Sakit selesai pada tahun 2007 dengan sistem pembangunan multiyears mengingat minimnya anggaran yang dimiliki Blitar.
Salah satu tempat kebanggan Djarot adalah museum Bung Karno yang terletak dekat dari makam Bung Karno.
Semua lengkap pada link berikut
6. Jika melihat dari prestasi dan gaya kepemimpinannya, tak heran jika Djarot mampu memimpin kota Blitar hingga dua periode.
Padahal sumber data sangat minim, karena jarang sekali diliput media, tapi prestasinya sangat tinggi dan bisa di cari ketika ditanya oleh warga Blitar.
7. Bahkan, Djarot mendapatkan suara sebesar 70% pada Pilkada kota Blitar.
Itulah mengapa Djarot menjadi 10 Kepala Daerah terbaik tahun 2008 versi Majalah Tempo.
Djarot bukan orang nomor dua biasa. Djarot adalah pelengkap bagi Ahok.
Selain berprestasi, Djarot juga seorang pejabat yang ramah kepada semua orang.
Sumber: Bani – Tsamara Amany – Ahokdjarot.id